Kiat Mengajarkan Matematika Kepada Bayi Berusia O - 1 Tahun
Bersamaan
mulai berfungsinya mata seorang bayi dengan normal, sekaligus melihat
fisik sekitarnya, proses pengajaran matematika sesungguhnya sedang
berlangsung. Karena apa yang dilihatnya jelas berkaitan "batasan-batasan
benda", yang gilirannya pada "ukuran" dan "satuan".
Kemudian
diperkuat sikap bermanja sang ibu dengan memperlihatkan benda-benda ke
hadapannya, sebagaimana dalam usaha membuat si bayi beraksi.
Namun
mengingat pamor matematika cenderung untuk konsumsi usia sekolah,
sehingga apa yang dilakukan mereka itu seakan-akan tidak berkaitan
dengan matematika.
Akibatnya mereka tidak serius, dalam arti,
bila ada kesempatan saja. Apalagi adanya predikat "jelimet", "komplek",
dan "susah" yang dilekatkan pada tubuh matematika, tentu semakin membuat
ibu tidak memprioritaskannya dalam jadwal pengasuhan.
Bila
seorang ibu sudah bisa menerima perilakunya seperti itu sebagai proses
pengajaran matematika juga, tentu akan semakin terangsang memberikan
input kepada bayinya.
Sekarang tinggal pada metode, bagaimana
urutan prioritasnya ? Jangan sampai yang lambat dicerna didulukan
ketimbang yang cepat ditangkap, karena itu namanya meloncat.
Nah
... berikut ini akan disampaikan beberapa kiatnya (kita batasi pada
aritmatika : salah satu cabang dari Matematika) "MEMPERLIHATKAN BOLA"
Perlihatkanlah
sejumlah bola dengan beberapa kali pindah posisi, yang berwarna gelap
dan berbahan sama. Diameternya lima ukuran saja dulu, 1 cm s/d 5 cm,
yang rasanya standar dengan daya penglihatannya. Bukankah puting susu
dan daerah hitam pada payudara, yang umumnya sering dilihat bayi ketika
mulai menyusu, sekitar itu juga ?
Penampilan awalnya hendaknya
berurutan dengan selisih waktu yang cukup. Tampilan acak dilakukan bila
bayi sudah akrab. Pada waktunya timbul kesan adanya perbedaan dan
persamaan, yakni ketika semuanya diperlihatkan, serta membandingkan
besar kecilnya. Dipilih lingkaran mengingat kesempurnaan, kesederhanaan,
dan keteraturannya, meskipun diproyeksikan ke bidang, sifat yang tidak
dimiliki bangun lainnya.
Satu ukuran yang warnanya berlainan pun
boleh, asal tajam serta sudah populer pada diri manusia sepanjang
hidupnya. Hitam, hijau, merah, biru, dan kuning, misalkan. Mana sajalah
dulu yang dipakai. Substansinya hampir sama juga, hanya jenisnya lain.
Ketika tahap sekaligus, pengertian lainnya muncul pada bayi, tepatnya
kaitan warna, ukuran, dan satuan melalui penggabungan dua macam input
monumental yang sudah dikuasainya.
Pakailah lima bola berdiameter
sama serta bisa digenggam. Sebanyak lima kali diperlihatkan, yang
masing-masing diambil satu, ..., dan lima. Ini untuk pengurangan.
Sebaliknya penjumlahan dengan menambahkan satu, ..., sampai empat pada
bola yang tergenggam. Mengingat cirikhas pada setiap jumlah bola yang
sering dilihatnya, bayi pun akan melihat kejanggalannya ketika dikurangi
atau ditambah. Intersan serupa yang muncul sebentar-sebentar membuatnya
semakin memahami hakikat "bertambah" dan "berkurang", yang ditandai
perubahan luas kelompok. Apalagi pada peragaan bola yang diameter dan
warnanya beragam. Pemahamannya tidak lagi terikat dengan ukuran, tetapi
pada jumlah bola yang tampak.
Adanya perasaan "terpisah bila
sendiri" dan "bersama saat digendong", yang sudah muncul sebelumnya,
sedikit-banyak ikut mempercepat pemahaman tersebut. Bila sudah maksimal
barulah bangun lain dilibatkan yang kerumitannya setingkat di atas bola,
yaitu kubus, mengingat ketiga sifat bola tersebut masih terkandung juga
di dalamnya. Proses pengajarannya sama. Hanya waktunya semakin pendek
karena formulanya sudah terjaring pada otak bayi dalam pengajaran bola.
Tinggal mengaplikasikanya pada kubus. Bak mudahnya siswa SD menjawab "2
mangga + 3 mangga" di rumah hanya karena sudah memahami hakikat "4
permen + 1 permen" di sekolah. Bisa diteruskan dengan menampilkan
keduanya, kotak dan bola, dalam setiap peragaan. Ukuran dan warna tidak
perlu dipersoalkan lagi, karena yang dibahas terbatas pada Aritmatika.
Masalah jumlah sebaiknya tidak beranjak dari lima, agar semakin
memperkuat basis intelektualnya. Toh nanti akan terangsang untuk
mempertanyakan objek dengan jumlah berikutnya.
Akhirnya bayi akan
benar-benar menganggap "gabungan" dan "pisahan" bisa dilakukan dengan
benda apa saja. Terutama setelah bangun-bangun lainnya diperagakan.
Pengertiannya tidak akan terpaku pada seragam atau beragam. Yang penting
tampak langsung. Misalkan, setelah melihat dua bola dan tiga kotak di
meja, yang penyimpanannya dengan tenggang waktu beberapa detik, ia pun
mengerti adanya lima buah benda. Tentu saja dalam setiap pengajaran
diselingi dengan mengajak bayi melihat benda-benda yang mudah
diinderainya di berbagai ruang di rumah. Selesai memperagakan "dua
bola", misalnya, bisa dilanjutkan dengan memperlihatkan kedua mata kita.
Pokoknya yang sepadan serta sering tampak.
Tiada lain untuk
membentuk karakter "pengasosiasian", sehingga terasalah, apa yang
diajarkan terhubungkan dengan apa yang dilihatnya. Terang saja bila dua
lemari yang diperlihatkan akan susah, karena matanya belum sanggup
dipakai untuk melihatnya sekaligus. Bisa-bisa ia memandangnya sebagai
satu benda saja. Berarti tidak nyambung. Dua kaki pun sama, mengingat
jarang tampak, sehingga kurang ampuh untuk memperkokoh pengertian. Lagi
pula jarang orangtua memperlihatkan kakinya. Terlihat oleh bayi pun
mungkin tidak. "MENYERTAI KEHIDUPAN BAYI"
Jadi pengajaran ini
dimaksudkan untuk menyertai kehidupan bayi sehari-hari, khususnya dalam
memandang benda-benda, serta merangsangnya menghubungkan satu sama lain.
Bayi yang sudah sering melihat payudara ibunya, maka dengan peragaan
"dua bola" dan "tiga kotak", masing-masing segera terbayang olehnya akan
"persamaan" atau "perbedaan" intuisinya. Sebaliknya bila tidak,
bayangan itu memang akan muncul juga. Tetapi tidak akan secepat itu.
Persis dengan dua WNI yang ber-IQ sama disuruh mengumpulkan sejumlah
kata dengan awalan huruf tertentu. Apakah sama cepat bila salah satunya
menggunakan kamus ? Tidak toh ! Ingat ! Kemampuan menyerap pengajaran
matematika pada siswa kelas I SD tidak hanya tergantung tingkat
kecerdasan, juga pengalaman era pra sekolah berupa frekwensi pengamatan
objek- objek melalui peragaan seperti contoh di atas di samping langsung
terhadap objek-objek sekitarnya.
Tidak heranlah bila banyak
ilmuwan berkata bahwa banyaknya memori semacam itu terpatri pada bayi
akan mempengaruhi daya : kreatif, kritis, atau aktifnya kelak. Terlebih
otak saat itu sangat ampuh untuk merekam. Sesungguhnya "masih bayi"
tidak tepat dijadikan alasan untuk menangguhkannya. Mendingan alasan
"takut salah". Tetapi terakhir ini perlu ditindaklanjuti dengan mencari
metodenya. Bila diam saja itu namanya nrimo ! "BERAKOMODASI DENGAN
FISIK/MENTAL BAYI" Hanya sebagai konsekwensi fisik/mental bayi masih
rawan, caranya harus serba telaten. Dengan kata lain, sesuai dengan
karakteristik khasnya. Bagaimana memanjakan dan mencermati dalam
memandikan, membobokan, dan menyusui demikian juga hendaknya dengan
pengajaran matematika.
Jangan coba-coba berpedoman pada sistim
untuk anak usia sekolah. Metode TK pun belum saatnya dipakai. Pokoknya
sesuaikan saja dengan dunianya pada usia tersebut. Waktunya harus tepat,
ketika badannya sedang bugar dan wajahnya sedang ceria. Syukur-syukur
kamar pun tenang dan adem. Jangan sampai alat peragaannya menimpa badan,
apalagi mukanya, karena dikhawatirkan menimbulkan trauma, yang
gilirannya bersikap kapok. Taroklah terjadi juga. Pertimbangkanlah
mencari alternatif sepadan. Misalkan warnanya diganti. Bila bayi
tiba-tiba rewel segera hentikan. Ikuti dulu kemauannya. Apakah mau
digendong, tidur, atau menyusu ? Bisa juga karena popoknya kurang
memuaskan atau terkena kencing. Pokoknya kita harus mempunyai kira-kira,
kapan si bayi dalam kondisi prima dan gembira. Untuk itu pribadi
khasnya harus dipahami pada berbagai suasana. "MEMPERDENGARKAN ANGKA"
Sebutan angka, satu, dua, dan seterusnya,cukup diperdengarkan secara
berurutan, pelan, dan bernada. Tanpa itu akan memberi kesan heboh, kaku,
dan marah, yang bisa membuatnya terkejut dan menangis, sehingga tidak
termakan sedikit pun.
Mengingat pendengaran bayi sudah berfungsi
ketika masih dalam rahim, berarti itu bisa dilakukan sejak lahir. Memang
mulanya tidak akan mengerti juga. Tetapi karena sering didengar, akan
irama verbal akan terekam juga. Berarti kelak semakin mudahlah bayi
mengucapkannya ketika sudah bisa berbicara. Tinggal nanti
mengaplikasikannya ke sejumlah benda yang terkait, sehingga ia pun akan
mengerti, apa yang dimaksud dengan masing- masing. Proses pengajaran ini
bisa dilakukan setelah usianya setahun. Semua itu akan memberikan
kredit point terhadap wawasan intelektual. Substansinya tidak bisa
dianggap kecil. Demikian juga terhadap kemampuannya bergulat seputar
matematika di bangku sekolah. Sering kita lihat beberapa mainan/makanan
kesukaan bayi berusia dua tahun diambil saudaranya secara diam-diam.
Reaksinya beragam, "saat itu juga", "beberapa detik kemudian", atau
"tidak sama sekali". Ini mengindikasikan daya hitungnya yang berlainan,
terlepas pelit-sosial, takut-berani, dan cuek-pedulinya. Celakanya bila
sampai dilakukan orang luar, sementara harganya mahal dan nilainya
tinggi. Jadi sesungguhnya dengan pendidikan sejak lahir itu akan
memperbesar "daya kritis" di kemudian hari, khususnya sikap tanggap
terhadap perubahan hak miliknya. "MILYARAN NEURON BAYI"
Sejak
lahir otak manusia yang terdiri dari milyaran neuron itu sudah siap
dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena yang
datang dari kehidupannya sehari-hari. Jadi tiada alasan untuk memisahkan
bayi dengan matematika sampai usia sekolah, mengingat keduanya sudah
berintegrasi otomatis sejak dini. Walaupun sifatnya "autodidak",
berdasarkan pengideraan sehari- hari, namun dasar-dasar pengajaran
matematika sudah diperolehnya, yakni yang berlangsung secara alamiah.
Warna iramanya perlu dikenali sebagai referensi. Kemudian dikembangkan
dengan memperkenalkan materi pengajaran yang kira- kira akan membuat si
bayi merasakan adanya sambungan memori.
Taroklah bayi sudah
sering melihat benda berjumlah "satu", "dua", dan "tiga". Bukan berarti
materi selanjutnya dengan lambang bilangan "empat", karena akan bengong,
tetapi dengan memperlihatkan benda yang jumlahnya "empat", agar
perbendaharaan memorinya semakin banyak. Tanpa memperhitungkan irama,
itu ibarat seorang guru TK yang menyanyikan sejumlah lagu, tetapi
masing-masing hanya pada bait pertama, dengan alasan, bisa dilanjutkan
di rumah. Nah ... bagaimana pun setiap muridnya akan merasa kurang sreg
atau belum lengkap. Perasaan kecewa seperti inilah membawa mereka malas
mendengarkan, apalagi mengikutinya. "PENUTUP" Akhirnya berpulang pada
antusias mereka yang berkompeten untuk merintis sampai mengwujudkannya
sebagai budaya pendidikan segmen matematika di kalangan bayi baru lahir.
Maka seyogyanya dipikirkan sejak dini Untuk anak balita anda